Peningkatan Harga Diri (Self-Esteem) Untuk Mengatasi Kecemasan Lansia Dalam Menghadapi Fase Kematian

Oleh

Muhammad Nur Iskandar*

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Bimbingan dan konseling Islam, Yogyakarta, Indonesia

Email: Muhammadnuriskandar140@gmail.com

ABSTRAK

Artikel ini mengeksplorasi peran penting peningkatan harga diri (self-esteem) pada lansia dalam mengatasi kecemasan saat menghadapi fase kematian. Melalui tinjauan terhadap hierarki kebutuhan oleh Maslow, yang mencakup kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan keterkaitan sosial, penghargaan, mewujudkan jati diri, serta penambahan konsep oleh Maslow tentang kebutuhan untuk mengetahui, memahami, dan kebutuhan estetika termasuk penghargaan diri, serta konsep Coopersmith tentang dimensi harga diri yang meliputi keberartian diri, kekuatan individu, kompetensi, dan ketaatan serta kemampuan memberi contoh. Artikel ini menyoroti pentingnya pemahaman mendalam tentang aspek-aspek psikologis, sosial, dan spiritual lansia sebelum menghadapi fase kematian. Dalam konteks tanggung jawab dari dinas Kesehatan, Lembaga, dan keluarga, perhatian pada kesejahteraan holistik lansia, termasuk peningkatan harga diri mereka, menjadi titik fokus penting dalam memastikan kualitas hidup yang bermartabat menjelang akhir kehidupan. Diharapkan pemahaman yang mendalam terhadap pentingnya dukungan psikologis, sosial, dan spiritual terhadap lansia semakin meningkat di masyarakat guna memberikan perhatian yang lebih besar pada kesejahteraan mereka sebelum menghadapi fase akhir kehidupan.

Keywords: harga diri (self-esteem), kecemasan, kematian

 

PENDAHULUAN

Setiap manusia akan mengalami fase-fase dalam hidupnya, salah satunya adalah akan menghadapi fase usia lanjut atau dapat disebut lansia. Lanjut usia merupakan suatu tahapan akhir dalam fase perkembangan atau kehidupan manusia yang dapat dianggap sebagai fase seseorang akan mengalami penurunan segala fungsi dalam tubuh. Proses menua di dalam perjalanan hidup setiap manusia merupakan suatu peristiwa yang akan dialami oleh setiap orang yang dikaruniai umur Panjang dan berlangsung secara terus menerus (Nugroho, 2008). Menurut definisi World Health Organization (WHO) pada tahun 2010, lansia merujuk pada individu yang telah mencapai usia 60 tahun. Perkembangan zaman di Indonesia menunjukkan kemajuan yang signifikan, yang mendorong peningkatan harapan hidup penduduknya. Dalam konteks demografi global yang disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nation Population Fund Asian (UNFPA), pada tahun 2009, jumlah lansia di seluruh dunia telah mencapai 737 juta jiwa, dimana sebagian besar tinggal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data terkini pada tahun 2020 menunjukkan peningkatan sebesar 7,2% dalam populasi lansia di Indonesia, mendekati proporsi lansia di negara-negara maju pada saat ini. (Tamher & Noorkasiani, 2009).

Melihat usia lansia di Indonesia yang dapat dikatakan lumayan banyak, tentu hal ini perlu mendapat perhatian ;lebih dari pemerintah setempat di setiap daerah yang ada di Indonesia. Selain itu tentu perlu adanya perhatian dari dari setiap keluarga yang terdapat lansia pada anggota keluarganya. Sebagai implikasinya dapat disimpulkan dunia Kesehatan serta keperawatan baik dari setiap anggota keluarga dan Lembaga Kesehatan atau Lembaga yang mengayomi lansia akan mendapat tuntutan (demand) untuk merawat para usia lanjut (Tamher & Noorkasiani, 2009).

Dari segi fisiologis, lansia mengalami penurunan kondisi fisik dan biologis, bersamaan dengan perubahan psikologis dan sosial. Tahap ini sering dicirikan dengan refleksi yang lebih mendalam terhadap makna hidup serta kecenderungan untuk mencari kedekatan spiritual. Secara umum, lansia rentan mengalami beragam gejala sebagai akibat dari penurunan fungsi biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. Transformasi ini memiliki dampak luas pada semua aspek kehidupan, termasuk kesehatan mereka (Tamher & Noorkasiani, 2009).

Dalam membahas lansia tentu tidak luput dengan suatu fase yang akan dialami oleh setiap manusia, terutama para lansia yang sangat dekat dengan fase ini yaitu kematian. Kehilangan kehidupan atau kematian merupakan hal yang pasti akan dialami oleh lansia sebagai terminasi dari fase akhir kehidupannya. Hal ini dijelaskan Kitab suci Al-Qur’an yang mana terdapat firman allah yang membahas kematian yang berbunyi “Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Al-Quran Surat Al-Ankabut 57” yang dapat kita pahami secara dangkal bahwa Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada Kami kamu (Allah SWT) dikembalikan. Menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan yang merupakan proses menuju akhir. Meskipun unik bagi setiap individu, kejadian-kejadian tersebut bersifat normal dan merupakan proses hidup yang diperlukan, serta akan dialami oleh setiap orang tanpa mengenal, waktu, tempat serta sebab dan akibat (Stanley & Beare, 2012).

Kematian merupakan realitas yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup tanpa terkecuali, merupakan suatu kepastian yang tidak dapat dihindari menurut Siswati & Haditono (1999). Papalia et al. (2002) menjelaskan bahwa kehidupan manusia bersifat nyata dan konkret, namun kematian juga merupakan hal yang tak terelakkan. Semua individu, baik diri sendiri maupun orang lain, akan menghadapi kematian. Karena kematian merupakan fenomena yang dapat terjadi kapan saja dan dialami oleh setiap entitas hidup, maka hal ini diberikan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan permasalahan lainnya.

Dalam setiap lansia untuk menghadapi kematian pasti akan memperoleh suatu tekanan psikologis yang hebat. Fase kematian Pada dasarnya adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk-makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit. Sejak awal kehidupan manusia, kematian dianggap sebagai realitas yang tidak menyenangkan dalam proses eksistensi. Menurut Royal & Fereshte (2011), kematian memiliki sifat abstrak yang tidak terkendali, tidak berwujud, dan sulit untuk dipahami. Sifat tak terduga dari kematian mampu menimbulkan perasaan prihatin, ketakutan, dan kecemasan (Yalom, 1980). Kecemasan terhadap kematian merupakan fenomena yang merambah pada manusia dari berbagai rentang usia dan sering dianggap sebagai dorongan dasar dalam perilaku manusia (Cicirelli, 2002). Meskipun demikian, definisi yang tepat terkait kecemasan menghadapi kematian sulit ditentukan karena pembahasan mengenai konsep kematian sendiri cenderung membuat individu merasa tidak nyaman (Cavanaugh & Blanchard-Field, 2011).

Menurut Atkinson (1999), situasi yang menimbulkan ancaman pada individu dapat memunculkan kecemasan yang merupakan dasar dari berbagai bentuk afek, seperti kemarahan, kebencian, kesedihan, kegembiraan, dan rasa sayang. Kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, menyebabkan individu merasa tegang, tidak nyaman, gelisah, dan bingung karena adanya objek yang tidak jelas atau belum terjadi. Sensasi kecemasan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari individu. Tillich (dalam Nugraheni, 2005) mengidentifikasi salah satu bentuk kecemasan, yaitu "The Anxiety of fate and death" atau kecemasan ontik terkait nasib dan kematian. Kematian dianggap sebagai realitas yang akan dialami oleh semua makhluk tanpa pengecualian dan tidak dapat ditolak oleh siapapun (Siswati & Haditono, 1999).

Templer (1970) mengartikan kecemasan terhadap kematian sebagai sebuah kondisi emosional yang tidak mengenakan yang dialami oleh seseorang ketika mencermati konsep kematian, disebabkan oleh ketidakjelasan terkait fenomena kematian. Chusairi (1997) mengungkapkan bahwa sebagai pengalaman tak terelakkan, kematian bisa terjadi kapan saja, menyebabkan munculnya kecemasan pada individu. Belsky (dalam Henderson, 2002) menggambarkan kecemasan terhadap kematian sebagai serangkaian pemikiran, ketakutan, dan perasaan tentang peristiwa terakhir kehidupan yang dialami individu dalam kondisi kehidupan normal. Ini menandakan bahwa setiap orang mengalami tingkat kecemasan terhadap kematian yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari, termasuk lansia yang juga membutuhkan orientasi dan tujuan baru.

Menurut Shihab (dalam Hidayat, 2006), kecemasan terhadap kematian dapat dipicu oleh misteri seputar kematian, kekhawatiran terhadap keluarga yang ditinggalkan, dan gambaran buruk tentang tempat setelah kematian. Hal ini sering kali berasal dari pandangan bahwa kehidupan hanya terjadi sekali di dunia ini. Dalam perspektif psikologis Hidayat (2006), kecemasan akan kematian tumbuh dari ketakutan akan kehilangan kehidupan yang duniawi di satu sisi, sementara di sisi lain, terdapat bayangan mengerikan tentang kematian itu sendiri. Kecemasan menghadapi kematian adalah kondisi emosional yang tak mengenakan, yang membuat individu merasa tegang, gelisah, dan bingung, disebabkan oleh ketidakjelasan terkait objek kematian yang belum terjadi atau terkait peristiwa pemisahan jiwa dari tubuh.

Untuk mengatasi kecemasan yang dialami oleh setiap lansia tentu banyak cara dan banyak bimbingan yang dapat dilakukan oleh setiap lansia yang memang merasakan kecemasan terhadap kematian. Faktor yang mempengaruhi kecemasan menghadapi kematian telah banyak diteliti di berbagai negara. Faktor-faktor tersebut antara lain self-efficacy, religiusitas, self-esteem, dan kearifan. Peningkatan harga diri (self esteem) untuk setiap lansia tentu sangatlah penting. Menghargai diri sendiri tentang potensi yang sudah dicapai setiap manusia jangan sampai hilang. Kecemasan yang berlebih tentu akan mempengaruhi semangat hidup serta pengaruh kesejahteraan lansia (Frankie & Prentice Dunn, dalam Santrock,2002). Penelitian yang dilakukan oleh Cicirelli (2002) juga menunjukkan bahwa lansia dengan self-esteem yang tinggi tidak merasakan cemas terhadap kematian. Kearifan, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ardelt (2007), mampu berperan dalam menurunkan kecemasan menghadapi kematian pada lansia. Menurut Coopersmith (1996), ciri-ciri orang dengan harga diri tinggi menunjukkan perilaku-perilaku seperti mandiri, aktif, berani mengemukakan pendapat, dan percaya diri. Sedangkan seseorang dengan harga diri yang rendah menunjukkan perilaku seperti kurang percaya diri, cemas, pasif, serta menarik diri dari lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh Andini dan Supriyadi (2013) menemukan bahwa untuk menghindari harga diri yang rendah, lansia diharapkan dapat mempertahankan serta meningkatkan pikiran positif agar dapat melanjutkan kehidupan selanjutnya, saat lansia berada di dalam pantisosial. Andini dan Supriyadi melanjutkan bahwa dengan tetap berpikir positif kepada diri sendiri, orang lain dan lingkungan maka lansia akandapat berinteraksi dengan baik dengan lansia lainnya serta tidak menjauhkan diri dari pergaulan baru di panti sosial, sehingga dapat mengurangi kesepian yang biasanya melanda para lansia yang tidak bisa menyesuaikan pada lingkungan barunya.

Berdasarkan pendapat dan uraian diatas tentu peningkatan harga diri (Self-Esteem) bisa diaplikasikan untuk meredakan kecemasan lansia dalam menghadapi fase kematian yang akan datang. Untuk itu penulis akan tertarik untuk membuat coretan tinta digital yang membahas tentang peningkatan harga diri (self-esteem) untuk mengatasi kecemasan lansia dalam menghadapi fase kematian.

 

METODE

Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggambarkan secara rinci dan mendalam pengalaman kecemasan yang dialami oleh lansia ketika menghadapi fase kematian mereka, serta proses peningkatan harga diri (self-esteem) sebagai tanggapan terhadap kecemasan tersebut.

Data untuk penelitian ini diperoleh melalui review mendalam dari berbagai artikel yang relevan yang membahas topik yang sama atau terkait dengan pengalaman kecemasan lansia dalam menghadapi kematian dan upaya peningkatan harga diri sebagai respons terhadap kecemasan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi wawasan dan temuan dari berbagai penelitian sebelumnya yang telah dilakukan di bidang ini.

Dalam melakukan analisis, peneliti menelaah informasi yang terdapat dalam artikel-artikel tersebut dengan cermat, menarik kesimpulan, dan mengidentifikasi pola-pola umum yang muncul dari data yang terkumpul. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang pengalaman kecemasan lansia dalam menghadapi kematian serta bagaimana upaya peningkatan harga diri dapat mempengaruhi atau mengatasi kecemasan tersebut, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif ini, diharapkan studi ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang pengalaman kecemasan lansia dalam menghadapi kematian serta potensi peningkatan harga diri sebagai faktor yang relevan dalam mengatasi kecemasan tersebut, berdasarkan temuan dari berbagai sumber literatur yang telah dikaji.

 

PEMBAHASAN

Harga diri (self-esteem) menurut Blascovich & Tomaka (dalam Lubis, 2009) adalah pandangan individu terhadap nilai dirinya atau bagaimana seseorang menilai, mengakui, menghargai, atau menyukai dirinya. Definisi Self-esteem yang paling banyak dipakai oleh Rosenberg yang menggambarkan self-esteem sebagai suatu sikap suka atau tidak suka terhadap diri sendiri. Sedangkan menurut Baron & Byrne (2005) harga diri merupakan objek dari kesadaran diri, evaluasi diri, dan merupakan penentu perilaku. Oleh karena itu, perilaku merupakan indikasi dari harga diri yang bersangkutan karena penghargaan diri akan muncul dalam perilaku yang dapat diamati.Branden (dalam Gunarsa, 2009) menyatakan bahwa harga diri (self-esteem)adalah suatu aspek kepribadian yang merupakan kunci terpenting dalam pembentukan perilaku seseorang. Karena hal ini berpengaruh pada proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil bahkan pada nilai-nilai dan tujuan hidup seseorang yangmemungkinkan manusia menikmati dan menghayati kehidupan,sehingga seseorang yang gagal memilikinya akan cenderung mengembangkan gambaranharga diri yang semu untuk menutupi kegagalannya.melihat dari pemaparan di atas, sangat memungkinkan bahwa peningkatan harga diri lansia dapat mengatasi lansia tersebut dalam menghadapi fase kematian, Meskipun proses menghadapi kematian merupakan tahapan yang kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, peningkatan harga diri dapat memberikan dukungan psikologis yang berarti bagi lansia dalam menghadapi situasi ini.

Maslow (dalam Sobur, 2011) berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Pada awalnya, Maslow mengajukan hierarki lima tingkat yang terdiri atas kebutuhan fisiologis, rasa aman,cinta, penghargaan, dan mewujudkan jati diri. Di Kemudian hari, menambahkan dua kebutuhan lagi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, serta kebutuhan estetika. Salah satu dari kebutuhan tersebut adalah penghargaan diri self-esteem. Menurutnya harga diri (self-esteem) merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu.

Pendekatan terhadap peningkatan harga diri (self-esteem) pada lansia memiliki peran signifikan dalam menangani kecemasan yang sering muncul ketika menghadapi fase kematian. Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow memberikan pandangan yang berguna dalam merangkai bagaimana pemenuhan kebutuhan pada setiap tingkat hierarki dapat mempengaruhi harga diri dan kecemasan lansia dalam menghadapi kematian. Tingkat pertama dalam hierarki Maslow adalah kebutuhan fisiologis. Pemenuhan kebutuhan akan makanan, minuman, dan perawatan medis pada lansia merupakan dasar yang harus terpenuhi agar mereka dapat memusatkan perhatian pada peningkatan harga diri. Rasa aman, tingkat kedua dalam hierarki, berperan penting dalam menenangkan lansia saat menghadapi kematian. Dukungan sosial dan lingkungan yang aman dapat mengurangi kecemasan yang mungkin muncul. Kebutuhan akan cinta dan keterkaitan sosial pada tingkat ketiga juga memberikan kontribusi penting. Lansia perlu merasa dicintai dan dihargai oleh keluarga, teman, atau komunitasnya. Hal ini dapat meningkatkan harga diri mereka. Penghargaan, pada tingkat keempat, berhubungan dengan pengakuan atas pencapaian hidup. Lansia yang merasa dihargai atas kontribusi hidupnya cenderung memiliki harga diri yang lebih kuat. Puncak hierarki, yaitu mewujudkan jati diri atau self-actualization, juga memiliki dampak signifikan.

Kebutuhan akan penghargaan seringkali diliputi frustasi dan konflik pribadi, karena yang diinginkan orang bukan saja perhatian dan pengakuan dari kelompoknya, melainkan juga kehormatan dan status yang memerlukan standar moral, sosial, dan agamaSaat lansia menemukan makna hidup yang lebih dalam, menerima diri mereka apa adanya, dan mengekspresikan diri secara penuh, mereka cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi. Mengakomodasi aspek-aspek hierarki kebutuhan Maslow dalam upaya meningkatkan harga diri lansia saat menghadapi kematian secara holistik akan berkontribusi pada penurunan tingkat kecemasan. Ketika kebutuhan-kebutuhan pada setiap tingkat terpenuhi, lansia dapat merasakan harga diri yang lebih kuat, meminimalisir kecemasan, dan menghadapi fase kematian dengan lebih tenang.

Peningkatan harga diri (self-esteem) pada lansia adalah perihal yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai aspek, sebagaimana disarankan oleh teori Coopersmith (1996). Teori ini mengidentifikasi beberapa dimensi yang menjadi komponen penting dalam konstruksi harga diri individu yang meliputi Significance, Power, Competence, dan Virtue.

  1. Significance (Keberartian Diri):

Dimensi ini menyoroti betapa pentingnya perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh lingkungan terhadap individu. Penerimaan dan perhatian dari lingkungan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perasaan harga diri lansia.

  1. Power (Kekuatan Individu):

Kemampuan individu untuk mempengaruhi, mengendalikan diri sendiri, serta orang lain merupakan faktor penting dalam pembentukan harga diri. Mampu mengelola dan mengontrol situasi sekitar, meskipun terbatas, dapat meningkatkan harga diri lansia.

  1. Competence (Kompetensi):

Dimensi ini menyoroti usaha individu dalam meraih prestasi yang baik. Lansia yang memiliki semangat untuk mencapai prestasi dapat merasa lebih berharga dan memiliki harga diri yang lebih tinggi.

  1. Virtue (Ketaatan dan Kemampuan Memberi Contoh):

Menekankan ketaatan individu terhadap norma yang berlaku dan kemampuan untuk memberi contoh yang baik. Hal ini juga berkontribusi pada pembentukan harga diri yang positif pada lansia.

Dengan mempertimbangkan teori Coopersmith, upaya untuk meningkatkan harga diri lansia dalam menghadapi fase kematian dapat melibatkan pemberian perhatian dan kasih sayang dari lingkungan, memberikan kesempatan untuk mempertahankan kendali sebisa mungkin, mendorong pencapaian prestasi yang layak, serta menghargai ketaatan pada norma sosial dan moral yang berlaku. Intervensi yang merangkul aspek-aspek ini secara holistik dapat berpotensi meningkatkan harga diri lansia dan membantu mereka mengatasi kecemasan saat menghadapi fase kematian dengan lebih baik.

Lanjut usia merupakan pertambahan umur seseorang disertai dengan penurunan fungsi fisik yang ditandai dengan penurunan fungsi otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal, peningkatan lemak tubuh dan penurunan fungsi otak, tubuh tidak akan mengalami perkembangan lagi sehingga tidak ada peningkatan kualitas fisik(Hurlock, 2002).

Menurut Tamher, (2009) lanjut usia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang dimulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagaimana diketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki masa selanjutnya yakni lanjut usia, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya,tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Selain itu pada usia lanjut, orientasinya secara umum serta persepsinya terhadap ruang/tempat dan waktu juga mundur karena biasanya pandangannya juga mulai menyempit dalam berbagai hal. Melihat penurunan kemampuan pada lansia seharusnya tidak menurunkan niat dan tidak menurunkan semangat bagi para dinas Kesehatan atau Lembaga bahkan keluarga yang mempunyai lansia untuk membimbing lansia untuk memperoleh kesejahteraan psikis dan batiniah maupun rohanian sebelum mengalami fase kematian.

Dalam perspektif Islam, tanggung jawab untuk membimbing dan merawat lansia memiliki nilai yang tinggi. Penurunan kemampuan pada lansia seharusnya tidak menurunkan semangat untuk memberikan perhatian yang adekuat terhadap kesejahteraan psikis, batiniah, dan rohaniah mereka sebelum menghadapi fase kematian. Dalam konteks ini, para dinas Kesehatan, Lembaga, dan keluarga yang memiliki tanggung jawab terhadap lansia diharapkan untuk memberikan dukungan yang komprehensif.

Pandangan Islam menekankan pentingnya pelayanan terhadap lansia sebagai suatu bentuk ibadah dan kebajikan. Mengingat keterbatasan yang mungkin dialami oleh lansia, adalah kewajiban moral bagi keluarga dan masyarakat untuk memberikan perhatian ekstra terhadap aspek kesehatan mental, spiritual, dan psikologis mereka. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong untuk memberikan perlakuan yang baik, penuh kasih sayang, dan perhatian kepada lansia.

Berdasarkan prinsip-prinsip Islam, memastikan kesejahteraan psikis, batiniah, dan rohaniah lansia sebelum menghadapi fase kematian adalah suatu amanah yang harus dipenuhi oleh setiap individu, lembaga, atau keluarga yang memiliki tanggung jawab terhadap lansia. Upaya ini termasuk memberikan dukungan emosional, membangun lingkungan yang nyaman, serta memberikan bimbingan spiritual yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang diyakini oleh lansia. Dengan cara ini, lansia dapat menghadapi fase kematian dengan ketenangan dan kesadaran spiritual yang lebih dalam, sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditanamkan oleh ajaran agama.

Melihat semua pemaparan para ahli yang insyaallah sudah kami teliti, tidak memungkiri bahwa saya peningkatan harga diri (self-esteem) kepada para lansia untuk menurunkan bahkan mengatasi kecemasan dalam menghadapi fase kematian memang terikat dan dapat memberikan efek yang cukup signifikan untuk lansia. Peningkatan harga diri (self-esteem) pada lansia dapat menjadi kunci dalam mengatasi kecemasan yang muncul saat menghadapi fase kematian.

Pendekatan yang mencakup aspek psikologis, spiritual, dan sosial pada lansia dalam konteks Islam menunjukkan bahwa perhatian yang diberikan kepada mereka merupakan bagian integral dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan agama. Dalam menjalankan peran sebagai pengurus dan pembimbing lansia, upaya untuk meningkatkan harga diri lansia sebelum menghadapi fase kematian harus diiringi dengan kepedulian yang mendalam terhadap kesejahteraan mereka secara menyeluruh. Dengan demikian, upaya merangkul berbagai konsep dan prinsip baik dari perspektif psikologis, sosial, maupun agama dapat memberikan landasan yang kuat bagi peningkatan kualitas hidup lansia dalam menghadapi kematian. Dukungan yang holistik ini diharapkan dapat membantu lansia meraih ketenangan batin dan persiapan yang lebih baik menjelang fase akhir kehidupan mereka.

 

KESIMPULAN

Peningkatan harga diri (self-esteem) pada lansia memiliki peran yang signifikan dalam mengatasi kecemasan saat menghadapi fase kematian. Konsep ini terkait erat dengan hierarki kebutuhan oleh Maslow yang meliputi kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan keterkaitan sosial, penghargaan, dan mewujudkan jati diri. Maslow memperluas hierarkinya dengan menambahkan kebutuhan untuk mengetahui, memahami, serta kebutuhan estetika, termasuk penghargaan diri sebagai faktor menentukan perilaku individu.

Teori Coopersmith (1996) menyoroti dimensi-dimensi penting dalam harga diri, seperti keberartian diri, kekuatan individu, kompetensi, dan ketaatan serta kemampuan memberi contoh. Gabungan konsep-konsep ini menunjukkan perlunya perhatian pada aspek psikologis, sosial, dan spiritual lansia sebelum menghadapi fase kematian.

Dalam konteks tanggung jawab dari dinas Kesehatan, Lembaga, dan keluarga terhadap lansia, perlu memberikan bimbingan yang holistik untuk mencapai kesejahteraan psikis, batiniah, dan rohaniah. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai etika, kemanusiaan, dan agama.

Perhatian pada harga diri lansia sebelum menghadapi fase kematian menjadi sangat penting dalam konteks perubahan yang diusulkan oleh Maslow dalam hierarki kebutuhannya. Peningkatan harga diri lansia adalah kunci dalam membantu mereka menghadapi fase akhir hidup dengan martabat, tenang, dan kesejahteraan yang optimal.

Diharapkan kesadaran akan pentingnya dukungan psikologis, sosial, dan spiritual terhadap lansia semakin meningkat di masyarakat. Dengan demikian, para pihak yang terlibat, termasuk dinas Kesehatan, Lembaga, dan keluarga, diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih besar pada kesejahteraan lansia dalam menghadapi fase akhir kehidupan mereka. Semoga, hal ini membantu mereka meraih kualitas hidup yang bermartabat dan menghadapi akhir hidup dengan tenang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, A. N., & Rahayu, S. A. (2016). Hubungan self-esteem dengan tingkat kecenderungan kesepian pada lansia. Jurnal Penelitian Psikologi7(2), 40-58.

Karni, A. (2018). Subjective well-being pada lansia. Jurnal Ilmiah Syi'ar18(2), 84-102.

Febrianti, H., & Yudiarso, A. (2023). META ANALISIS HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA. Media Bina Ilmiah18(2), 357-362.

Assa, R. K., Hutauruk, M., & Natalia, A. (2020). HUBUNGAN SPOUSELESS DENGAN SELF ESTEEM PADA LANSIA DI DESA RITEY KECAMATAN AMURANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA SELATAN. JURNAL KEPERAWATAN8(2), 72-78.

Dina Karamani, S., & Indati, A. (2018). Peran kearifan (wisdom) terhadap kecemasan menghadapi kematian pada lansia. Jurnal Psikologi45(3), 181-188.

Kurniawan, K., Khoirunnisa, K., Casman, C., Wijoyo, E. B., Azjunia, A. R., Nurpadillah, E. I., ... & Nurrohmah, Y. A. (2023). The Effectiveness of Social Support in Adolescents to Overcome Low Self-Esteem: Scoping Review. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan5(1), 62-68.

Harapan, P., Sabrian, F., & Utomo, W. (2014). Studi fenomenologi persepsi lansia dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian (Doctoral dissertation, Riau University).

Maramis, R. L. (2015). Kebermaknaan hidup dan kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia di Panti Werdha Samarinda. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi3(4).

Kurniasih, R., & Nurjanah, S. (2020). Hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan akan kematian pada lansia. Jurnal Keperawatan Jiwa8(4), 391-400.

Banon, E., Rakhmawati, I., Hidayat, E., Sudrajat, A., Suratun, S., & Hartini, T. (2022). Terapi Kelompok Life Review Efektif dalam Meningkatkan Harga Diri Lansia. JKEP7(2), 224-233.

Astuti, N. P., Asrowi, A., & Surur, N. Krisis Kasih Sayang, Kesepian Jiwa, dan Kesiapan Kematian pada Lansia di Panti Jompo. Jurnal Psikoedukasi dan Konseling4(2), 91-97.

Komentar